tahapan sdlc

Wajib tahu! Inilah 11 Tahapan SDLC (Software Development Life Cycle)

Istilah SDLC mungkin bukanlah suatu hal yang asing kamu ketahui sebagai seorang programmer. Dalam bahasa Indonesia, SDLC atau Software Development Life Cycle dapat diartikan sebagai sebuah siklus dari pengembangan sistem. Kira-kira, bagaimana tahapan SDLC (Software Development Life Cycle)?

Seperti yang kita tahu, pengembangan sistem tentu akan digunakan untuk tujuan tertentu, seperti mengembangkan sistem perangkat lunak (Software). Pada awal perkembangan perangkat lunak, para programmer tanpa mengikuti prosedur langsung melakukan coding yang dapat memberikan risiko yang cukup tinggi.

11 Tahapan SDLC (Software Development Life Cycle)

Sumber : https://www.roberthalf.com/

SDLC sendiri dimulai pada tahun 1960-an. Sejak saat itu, proses coding para programmer sudah diikat oleh sebuah tahapan yang sudah disesuaikan dengan prosedur yang sudah meminimalisir dampak buruk akibat penelitiannya. Nah, berikut ini adalah tahapan-tahapan Software Development Life Cycle.

1. Inisiasi (initiation)

Tahap inisiasi menjadi tahapan SDLC yang pertama. Biasanya, tahap ini ditandai dengan adanya pembuatan proposal tentang proyek perangkat lunak.

2. Pengembangan Konsep Sistem (system concept development)

Setelah tahap inisiasi, tahap selanjutnya adalah tahap pengembangan konsep. Pada tahap ini, kamu akan diminta untuk menjelaskan mengenai lingkup konsep yang akan dikerjakan.

Termasuk juga penjelasan mengenai dokumentasi pengembangan manajemen rencana dan analisis area sistem. Selain itu, pada tahap ini kamu juga akan mempelajari bagaimana cara kerja dari sebuah sistem.

3. Systems Planning (Perencanaan Sistem)

Tahapan ini umumnya lebih menekankan aspek feasibility study, yakni studi kelayakan pengembangan sistem. Adapun aktivitas yang dikerjakan pada tahap ini adalah sebagai berikut

  • Pembentukan tim dan konsolidasinya.
  • Mendefinisikan tujuan pengembangan serta ruang lingkup dari pengembangan yang akan dilakukan
  • Mengidentifikasi masalah yang ada pada akankah dapat diselesaikan melalui pengembangan sistem
  • Menentukan strategi yang digunakan selama proses pengembangan dan mengevaluasinya
  • Menentukan prioritas teknologi yang akan digunakan dan pemilihan aplikasi

4. Analisis Sistem (System Analysis)

Pada tahap analisis sistem, akan dilakukan beberapa tahap meliputi study literature. Study literature ini berguna untuk dapat menemukan kasus yang dapat ditangani oleh sistem dan juga mendefinisikan sebuah sistem.

Pada tahap ini, kamu juga dituntut untuk menganalisis kebutuhan sistem dan juga membuat batasan sistem menggunakan brainstorming. Dengan begitu, tim pengembang jadi mengetahui kasus yang tepat untuk dimodelkan dengan menggunakan sistem.

5. Desain (design)

Pada tahap ini, pengembang akan mentransformasikan kebutuhan secara terperinci. Dokumen desain sistem fokus pada bagaimana caranya agar dapat memenuhi berbagai fungsi yang dibutuhkan oleh sebuah sistem

6. Perancangan sistem

Pada tahap ini, fitur-fitur dan operasi pada sistem dideskripsikan secara mendetail dengan aktivitas analisa interaksi objek dan fungsi pada sebuah sistem serta menganalisa data dan membuat skema database. Selain itu, tahap ini juga akan merancang sebuah user interface.

7. Pengembangan (development)

Setelah itu, tahap yang selanjutnya adalah tahap pengembangan, yakni mengubah perancangan ke sistem informasi yang kompleks. Tahap ini juga bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara memperoleh dan melakukan penginstalan pada lingkungan yang diharapkan oleh sebuah sistem.

Seperti misalnya, membuat basis data dan menyiapkan standar prosedur, menyiapkan dokumen coding, testing, compile, repair, dan cleaning program. Pada tahap ini juga terdapat tahap visual development phase.

8. Integrasi dan Pengujian (integration and test)

Tahap selanjutnya adalah tahap integrasi dan pengujian. Pada tahap ini, pengembang akan mempresentasikan sistem perangkat lunak yang telah memenuhi keadaan yang dispesifikasikan pada dokumen kebutuhan fungsional. Laporan analisis dan pengujian akan dihasilkan dengan diarahan oleh pengmbang bagian penjamin mutu (quality assurance) dan user.

9. Implementasi

Pada tahap ini, akan diadakan pelaksanaan perangkat lunak pada area produksi (area pada user) dan menjalankan resolusi rate masalah yang terdeteksi dari tahap integrasi dan pengujian sebelumnya.

10. Operasi dan Pemeliharaan (operation and maintenance)

Pada tahap ini, akan dijelaskan tentang pekerjaan yang dilakukan untuk menjalankan dan memelihara sistem informasi pada area produksi (lingkungan pada user), termasuk implementasi akhir dan masuk pada proses peninjauan,.

11. Disposisi (disposition)

Tahap yang terakhir yaitu mendeskripsikan aktivitas dari pengembangan sistem serta membangun data yang sesungguhnya sesuai dengan aktivitas user yang dilakukan.


Baca juga : 


Mengapa dengan SDLC?

Berikut ini adalah beberapa alasan utama mengapa model SDLC penting untuk mengembangkan sistem perangkat lunak

  • SDLC menawarkan dasar dalam hal perencanaan, penjadwalan, dan juga estimasi proyek yang akan dilakukan.
  • SDLC memberikan kerangka kerja untuk serangkaian kegiatan dan hasil standar.
  • SDLC merupakan sebuah mekanisme yang dapat digunakan untuk pelacakan dan juga kontrol sebuah proyek.
  • Dengan menggunakan SDLC diharapkan pengembang dapat meningkatkan visibilitas perencanaan proyek kepada semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses pengembangan sebuah sistem.
  • SDLC mampu menambah dan meningkatkan kecepatan proses pengembangan.
  • Hubungan dengan klien yang lebih baik
  • SDLC diharapkan dapat membantu kamu dalam mengurangi risiko proyek dari rencana manajemen proyek.

Jenis-jenis model SDLC

Sumber : https://static.javatpoint.com/

Pada perkembangan SDLC saat ini, ada banyak sekali model yang ditawarkan. Akan tetapi, ada beberapa model yang sangat populer, khususnya dalam dunia pengembangan software. Apa saja? Simak terus, ya!

1. Waterfall

Model yang pertama yaitu model Waterfall. Model waterfal dalam penggunaannya menggunakan pendekatan sistematis serta sekuensial. Tahapan SDLC waterfall ini dimulai dari tingkat requirement hingga maintenance.

Untuk bahasannya silahkan pelajari pada tautan berikut ini : Metode Waterfall : Pengertian, Tahapan, Contoh, Kelebihan dan Kekurangan

2. Prototype

Model yang selanjutnya adalah model prototype. Model pengembangan yang satu ini dapat memberi izin kepada penggunanya untuk memiliki gambaran awal mengenai pemrograman yang akan dilakukan.

3. Rapid Application Development

Model pengembangan Rapid Application Development menggunakan pendekatan orientasi komponen terhadap pengembangan.

4. Spiral

Model spiral  dapat dibilang model evolusioner yang mengkombinasikan sifat iteratif berbagai model prototype dan aspek sistematis dari sebuah model sekuensial.

5. Agile

Model pengembangan Agile merupakan suatu model pengembangan dengan jangka waktu pendek yang dapat beradaptasi dengan cepat. Pengembangan model ini bersifat dinamis terhadap perubahan dalam bentuk apa pun.

Terdapat beragam model yang ada pada sistem SDLC yang dapat dipilih dan dikembangkan. Namun, yang perlu diperhatikan dalam penggunaannya adalah jangan sampai salah memilih metode yang digunakan dalam proses pengembangan. Sebab, hal ini akan menjadi lebih rumit jika cara yang dipakai salah.

Penutup

Nah, demikian pembahasan singkat tentang tahapan SDLC (Software Development Life Cycle), alasan menggunakan SDLC, dan berbagai jenis model SDLC yang ada. Semoga informasi tersebut dapat menambah pengetahuan kamu dan jangan lupa membagikan pengetahuan yang kamu dapat kepada orang lain. Sekian dan selamat beraktivitas kembali.

Sumber gambar utama : https://leankit.com/

Guntoro

Freelancer web and mobile developement, blogger, and teacher.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.